Today

Emas Melemah di Awal Desember 2025, Pelaku Pasar Waspadai Sinyal Ekonomi Jelang Keputusan The Fed

Andri Hakim

Supernews.co.id-Pergerakan harga emas global pada awal Desember 2025 menunjukkan dinamika yang berbeda dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Setelah mencatat reli panjang selama enam minggu beruntun, logam mulia tersebut akhirnya terkoreksi seiring meningkatnya aksi ambil untung dari para investor. Koreksi ini dipandang sebagai respons wajar pasar terhadap reli kuat yang telah berlangsung, namun juga terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi dasar keputusan kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) dalam pertemuan mendatang.

Pada perdagangan Selasa (2/12/2025) waktu New York, harga emas spot tercatat turun 0,55% ke US$ 4.209,21 per ons troi. Di awal sesi, pelemahan bahkan sempat melampaui level tersebut dan mendekati penurunan lebih dari 1%. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ditutup melemah 0,81% ke US$ 4.240,80 per ons. Meskipun penurunan ini relatif moderat, pergerakan tersebut mengakhiri momentum kenaikan yang sebelumnya terlihat belum menunjukkan tanda-tanda melambat.

Aksi Ambil Untung, Koreksi Sehat Setelah Tren Panjang

Menurut analis pasarmetal, pergerakan korektif ini bukan sinyal pelemahan fundamental, melainkan bentuk konsolidasi harga setelah periode kenaikan yang cukup agresif. Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, Peter Grant, menilai bahwa pelemahan pada awal Desember lebih mencerminkan investor yang ingin mengamankan cuan setelah reli panjang.

Grant juga menegaskan bahwa sentimen pasar terhadap emas masih positif. Dorongan utama berasal dari meningkatnya peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Kondisi tersebut biasanya memperkuat posisi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil langsung. Ketika suku bunga rendah, biaya peluang memegang emas menjadi lebih kecil sehingga permintaan dapat meningkat.

Baca Juga:  Harga Emas Dunia Cetak Penguatan 0,30% ke Level USD 4.231,255 per Troy Ons

Lebih jauh, Grant menyampaikan keyakinannya terhadap potensi kenaikan harga emas di masa depan. Ia menilai tren jangka panjang masih mengarah ke atas, bahkan membuka kemungkinan emas melampaui US$ 5.000 per ons pada awal 2026 bila kondisi makro mendukung.

Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Meningkat

Sentimen pasar semakin menguat setelah sejumlah indikator ekonomi AS menunjukkan tanda perlambatan. Data-data tersebut, ditambah sinyal dovish dari beberapa pejabat The Fed, memperbesar keyakinan bahwa bank sentral AS akan mengambil langkah pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Saat ini, probabilitas pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan FOMC berikutnya mencapai 89%. Angka tersebut mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap pelonggaran kebijakan moneter.

Bagi emas, ekspektasi pemangkasan suku bunga selalu menjadi katalis yang kuat. Ketika suku bunga turun, yield obligasi melemah dan investor cenderung mencari aset yang berfungsi sebagai penyimpan nilai, termasuk emas. Oleh karena itu, meskipun harga emas terkoreksi dalam jangka sangat pendek, struktur sentimennya masih berpihak ke arah kenaikan.

Pasar Menunggu Data Ekonomi Kunci AS

Dalam waktu bersamaan, para pelaku pasar tengah bersiap menyambut dua rilis data penting yang dapat memengaruhi arah kebijakan The Fed:

1. Data Ketenagakerjaan ADP November (3 Desember 2025)

Laporan ini memberikan gambaran mengenai kondisi ketenagakerjaan sektor swasta AS. Bila pertumbuhan lapangan kerja melambat, hal itu dapat memperkuat alasan The Fed untuk menurunkan suku bunga guna mendukung aktivitas ekonomi.

2. Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) September – rilis tertunda (5 Desember 2025)

PCE merupakan indikator inflasi yang paling diperhatikan The Fed. Perubahan kecil pada data ini sering kali memicu reaksi besar di pasar. Penurunan inflasi umumnya mendorong pelonggaran kebijakan moneter, yang berarti positif bagi emas.

Pasar emas kerap bereaksi dengan volatilitas tinggi menjelang rilis data ekonomi seperti PCE dan laporan ketenagakerjaan. Para trader cenderung mengurangi posisi ketika ketidakpastian meningkat, salah satu alasan mengapa aksi ambil untung cukup dominan pada perdagangan awal minggu.

Baca Juga:  Harga Emas Antam Hari Ini 27 November 2025, Naik atau Turun?

Bank Sentral Masih Jadi Pembeli Besar Emas

Di luar faktor makroekonomi, permintaan fisik emas tetap menunjukkan kekuatan. World Gold Council (WGC) mencatat bahwa bank sentral global membeli 53 ton emas pada Oktober 2025, naik 36% dibandingkan bulan sebelumnya. Pembelian tersebut menjadi yang terbesar sejak awal tahun, menandakan bahwa emas masih menjadi instrumen pilihan untuk memperkuat cadangan devisa.

Lonjakan permintaan dari bank sentral global sering kali menjadi faktor pendukung harga emas dalam jangka panjang. Ketika lembaga seperti bank sentral menambah cadangan mereka, pasar melihatnya sebagai sinyal kepercayaan terhadap kestabilan nilai emas.

Perak Melonjak, Cetak Rekor Baru

Berbeda dengan emas yang sedang mengalami koreksi ringan, harga perak justru melanjutkan penguatannya. Pada perdagangan Selasa, perak tercatat naik 0,98% ke US$ 58,54 per ons, setelah menorehkan rekor US$ 58,83 pada awal pekan (1/12/2025). Sepanjang 2025, harga perak telah melonjak lebih dari 100%, menjadi salah satu komoditas dengan kinerja terbaik tahun ini.

Lonjakan harga perak didukung oleh kondisi pasokan yang ketat, terutama dari pasar China. Inventaris perak di bursa Shanghai menurun drastis, menandakan permintaan tetap tinggi sementara suplai tidak cukup cepat untuk memenuhi pasar.

Commerzbank menilai bahwa meskipun tidak ada katalis baru yang memicu kenaikan, kondisi pasar yang ketat sudah cukup untuk menjaga harga dalam fase penguatan. Bank tersebut memperkirakan harga perak dapat bergerak moderat menuju US$ 59 per ons dalam satu tahun mendatang.

Pergerakan Logam Mulia Lainnya Beragam

Logam mulia lain mencatatkan pergerakan yang tidak seragam. Pada laporan perdagangan hari yang sama:

  • Platinum turun 1,38% ke US$ 1.643,76 per ons
  • Palladium justru melonjak 2,37% ke US$ 1.467,37 per ons

Fluktuasi ini mencerminkan kondisi pasar yang sangat dipengaruhi oleh dinamika masing-masing industri, khususnya sektor otomotif yang merupakan pengguna utama platinum dan palladium untuk komponen katalitik.

Konsolidasi Sebelum Arah Baru?

Penurunan harga emas pada awal Desember 2025 tampaknya lebih bersifat teknikal daripada fundamental. Dengan kuatnya ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga, serta meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral dunia, prospek logam mulia ini masih berada dalam lintasan positif.

Konsolidasi harga saat ini dapat menjadi fase persiapan bagi pergerakan yang lebih besar. Namun, arah harga emas dalam jangka pendek sangat bergantung pada hasil rilis data ekonomi AS yang akan menentukan langkah The Fed selanjutnya. Pasar tampaknya akan tetap volatil hingga kepastian kebijakan moneter dirilis pekan depan.

[addtoany]

Related Post